ACHEH SOCIAL SCIENCE DEVELOPMENT: Tokoh Aceh
#header .heading a {content:url(https://lh3.googleusercontent.com/-2gnbatW8xoM/V-vjvt7aZiI/AAAAAAAAABY/0188kqgdBxse8xNklbLzZpc9roWZyiuBgCJoC/w530-h375-p-rw/assd.jpg);text-align:left;}

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rumah Adat Aceh

Aceh adalah provinsi Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera. Provinsi Aceh sering pula lekat dengan gelar Daerah Istimewa karena dalam pemerintahannya, negara telah menjamin kekhususannya dalam mengatur hukumnya sendiri, terutama yang berkaitan dengan hukum syariat Islam

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Tokoh Aceh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Aceh. Show all posts

Saturday, 8 October 2016

Biograrfi Teungku Muhammad Daud Beureueh

Berkas:Teuku Daud Beureueh.jpg
Teungku Muhammad Daud Beureueh (lahir di Beureu'eh, kabupaten Pidie, Aceh, 17 September 1899 – meninggal di Aceh, 10 Juni 1987 pada umur 87 tahun) adalah mantan Gubernur Aceh dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan tokoh kontroversial yang populer di kalangan masyarakat Aceh. Ia melakukan pemberontakan kepada pemerintah dengan mendirikan NII akibat ketidakpuasannya atas pemerintahan Soekarno.
Lebih jauh
Siapakah Dia?
Teungku M. Daud Beureueh dilahirkan pada 15 September 1899 di sebuah kampung bernama "Beureueh", daerah Keumangan, Kabupaten Aceh Pidie. Kampung Beureueh adalah sebuah kampung heroik Islam, sama seperti kampung Tiro. Ayahnya seorang ulama yang berpengaruh di kampungnya dan mendapat gelar dari masyarakat setempat dengan sebutan "Imeuem (imam) Beureueh". Teungku Daud Beureueh tumbuh dan besar di lingkungan religius yang sangat ketat. Ia tumbuh dalam suatu formative age yang sarat dengan nilai-nilai Islam di mana hampir saban magrib Hikayat Perang Sabil dikumandangkan di setiap meunasah (masjid kampung). Ia juga memasuki masa dewasa di bawah bayang-bayang keulamaan ayahnya yang sangat kuat mengilhami langkah hidupnya kemudian.

Orang tuanya memberi nama Muhammad Daud (dua nama Nabiyullah yang diberikan kitab Alquran dan Zabur). Dari penamaan ini sudah terlihat, sesungguhnya yang diinginkan orang tuanya adalah bila besar nanti ia mampu mengganti posisi dirinya sebagai ulama sekaligus mujahid yang siap membela Islam. Karena itu, pada masa-masa usia sekolah, ayahnya tidak memasukkan beliau ke lembaga pendidikan resmi yang dibuat Belanda seperti: Volkschool, Goverment Indlandsche School, atau HIS. Namun lebih mempercayakan kepada lembaga pendidikan yang telah lama dibangun ketika masa kerajaan Islam dahulu semodel dayah/zawiyah. Yang menjiwai ayahnya adalah semangat anti-Belanda/penjajah yang masih sangat kuat. Apalagi ketika itu Aceh masih dalam suasana perang di mana gema Hikayat Perang Sabil masih nyaring di telinga masyarakat Aceh.

Dalam pusat pendidikan semacam ini, Daud ditempa dan dididik dalam mempelajari tulis-baca huruf Arab, pengetahuan agama Islam (seperti fikih, hadis, tafsir, tasawuf, mantik, dsb), pengetahuan tentang sejarah Islam, termasuk sejarah tatanegara dalam dunia Islam di masa lalu, serta ilmu-ilmu lainnya. Dari latar belakang pendidikan yang diperolehnya ini, tidak disangsikan lagi, merupakan modal bagi keulamaannya kelak.

Sekalipun tidak mendapatkan pendidikan Belanda, namun dengan kecerdasan dan kecepatannya berpikir, beliau mampu menyerap segala ilmu yang diberikan kepadanya itu, termasuk bahasa Belanda. Kebiasaannya mengkonsumsi ikan, yang merupakan kebiasaan masyarakat Aceh, telah membuatnya menjadi quick-learner (mampu belajar cepat).

Kemampuan yang luar biasa ini, sebagian besar karena ia merasa menuntut ilmu adalah wajib. Maka belajar tentang segala sesuatu, dipersepsikannya hampir sama dengan "mendirikan shalat". Dalam usia yang sangat muda, 15 tahun, ia sudah menguasai ilmu-ilmu Islam secara mendalam dan mempraktekkannya secara konsisten. Dengan segera pula ia menjadi orator ulung, sebagai "singa podium." Ia mencapai popularitas yang cukup luas sebagai salah seorang ulama di Aceh. Karena itu, beliau mendapat gelar "Teungku di Beureueh" yang kemudian orang tidak sering lagi menyebut nama asli beliau, tetapi nama kampungnya saja. Ketenaran seorang tokoh di Aceh senantiasa melekat pada kharisma kampungnya. Kampung adalah sebuah entitas politik yang pengaruhnya ditandai dengan tokoh-tokoh perlawanan. Dari kenyataan ini, seorang yang terlahir dari sebuah entitas resisten, tidak akan pernah berhenti melawan sebelum cita-cita tercapai. Kendatipun pihak lawan menggunakan segala daya dan upaya untuk membungkam perlawanan tersebut.

Pendidikan
Tentang latar belakang pendidikan Daud Beureu-eh, Anggraini dalam tulisannya menyebutkan bahwa Daud Beureu-eh tidak pernah masuk sekolah formal, tetapi meskipun demikian beliau tidak buta huruf dan mengenal huruf latin.
Ibrahimy mengisahkan bahwa Daud Beureu-eh menempuh pendidikannya di pesantren. Pertama sekali beliau belajar di Pesantren Titeu yang dipimpin oleh Tgk. Muhammad Hamid selama enam bulan. Kemudian beliau belajar di Pesantren Iie Leumbeu dibawah pimpinan Tgk. Ahmad Harun. Setelah menyelesaikan pendidikannya selama 4,5 tahun di pesantren tersebut, beliau sudah mantap pengetahuannya dan menjadi ulama.
Sebagaimana uraian singkat di atas dapat diketahui bahwa Abu Daud Beureu-eh adalah ulama lepasan pesantren dan tidak pernah mengecap pendidikan di lembaga formal. Meskipun beliau dididik di dayah yang notabene merupakan lembaga pendidikan tradisional, namun pemikiran keagamaan beliau terbilang maju dan moderat. Dalam pandangan penulis sisi keilmuan beliau cenderung sepaham, seirama dan sebanding dengan pemikir-pemikir terkemuka di Indonesia semisal HAMKA. Cuma saja Abu Beureu-eh dalam kehidupannya tidak meniggalkan karya tulis seperti halnya Ali Hasyimi dan tokoh-tokoh Aceh lainnya sehingga sebagian besar pemikirannya hilang digerus zaman.
Tentang latar belakang pendidikan Daud Beureu-eh, Anggraini dalam tulisannya menyebutkan bahwa Daud Beureu-eh tidak pernah masuk sekolah formal, tetapi meskipun demikian beliau tidak buta huruf dan mengenal huruf latin.

Ibrahimy mengisahkan bahwa Daud Beureu-eh menempuh pendidikannya di pesantren. Pertama sekali beliau belajar di Pesantren Titeu yang dipimpin oleh Tgk. Muhammad Hamid selama enam bulan. Kemudian beliau belajar di Pesantren Iie Leumbeu dibawah pimpinan Tgk. Ahmad Harun. Setelah menyelesaikan pendidikannya selama 4,5 tahun di pesantren tersebut, beliau sudah mantap pengetahuannya dan menjadi ulama.
Sebagaimana uraian singkat di atas dapat diketahui bahwa Abu Daud Beureu-eh adalah ulama lepasan pesantren dan tidak pernah mengecap pendidikan di lembaga formal. Meskipun beliau dididik di dayah yang notabene merupakan lembaga pendidikan tradisional, namun pemikiran keagamaan beliau terbilang maju dan moderat. Dalam pandangan penulis sisi keilmuan beliau cenderung sepaham, seirama dan sebanding dengan pemikir-pemikir terkemuka di Indonesia semisal HAMKA. Cuma saja Abu Beureu-eh dalam kehidupannya tidak meniggalkan karya tulis seperti halnya Ali Hasyimi dan tokoh-tokoh Aceh lainnya sehingga sebagian besar pemikirannya hilang digerus zaman.
Tokoh Yang Mempengaruhi Pemikiran Tgk. Muhammad Daud Beureu-eh
Daud Beureu-eh sepengetahuan penulis tidak meninggalkan karya tulis yang memuat pokok-pokok pikirannya, baik tentang agama maupun politik. Tgk Daud Beureu-eh terkenal sebagai singa podium yang sering menyampaikan pikiran-pikirannya secara lisan. Dengan demikian pemikiran-pemikiran beliau hanya terekam dalam memori para pendengarnya dan sulit untuk dilacak.
Namun demikian, berdasarkan kajian penulis dari beberapa literatur, penulis berani menduga bahwa Tgk. Daud Beure-eh adalah sosok ulama yang terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dari Saudi Arabiya dan juga pemikiran Jamaluddin Al-Afghani, Syaikh Muhammad Abduh dari Mesir dan juga ulama-ulama lain yang semisal mereka.
Kesimpulan ini lahir, berdasarkan penulusuran penulis dari beberapa referensi terkait dengan gaya kepemimpinan dan pandangannya tentang agama. Gerakan revolusioner yang dilakukan oleh Abu Beureu-eh dan kebenciannya kepada kolonialisme hampir menyerupai dengan gaya-gaya Jamaluddin Al-Afghani. Sedangkan dalam hal pendidikan modern, Daud Beureu-eh nampaknya terpengaruh dengan pemikiran Abduh dari Mesir. Dalam hal ketauhidan, penulis punya asumsi bahwa keyakinan Abu Daud Beureu-eh hampir menyerupai dan bahkan seirama dengan Muhammad bin Abdul Wahab yang sangat anti kepada syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul.

Sunday, 2 October 2016

Biografi Tjut Nyak Deviana Daudsjah


Hasil gambar untuk riwayat pendidikan Tjut Nyak Deviana Daudsjah
Tjut Nyak Deviana Daudsjah adalah seorang musisi dan professor musik yang berdarah Aceh dan Minahasa dilahirkan di Jakarta pada tanggal 13 Februari 1958. Mengenyam pendidikan tinggi musik di Musikhochschule Freiburg Jerman pada tahun 1977, jurusan piano klasik dan komposisi.
Prestasi
Tjut Nyak Deviana Daudsjah merupakan rektor sebuah perguruan tinggi Musik International Music College (Jazz & Rockschulen Freiburg) di Jerman dari tahun 1990 hingga 1995. Salah satu proyek terbesarnya menyusun kurikulum pendidikan tinggi musik yang mana diakui oleh pemerintah Jerman.

Selama di Eropa, Deviana meraih beberapa penghargaan, di antara lain dua kali juara 1 vocalist diajang lomba Nasional Swiss, pianis terbaik Swiss, pendidik musik terbaik Jerman. Pada tahun 1983 Deviana ditawari rekaman album oleh perusahaan rekaman dunia BMG Ariola dan Polygram, namun ia menolak oleh karena tidak ingin terikat pada kontrak selama 7 tahun.

Pada tahun 2005 Deviana dianugerahi Citra Kartini Award yang diberikan oleh Menteri Pemberdayaan Wanita untuk kontribusinya dalam pendidikan musik di Indonesia.

Pada tahun 2007 Deviana diangkat oleh Dirjen PAUDNi KemDikBud menjadi anggota Konsorsium Musik.

Pada tahun 2009 bersama tokoh-tokoh ternama ia mendirikan Asosiasi Pendidik dan Praktisi Seni Pertunjukan (PRASASTI) dan Lembaga Sertifikasi Kompetensi Musik yang diakui oleh Kementerian Pendidikan & Kebudayaan.

Disamping mengajar, Deviana juga aktif dalam menulis komposisi musik orchestra serta modern R&B, di antara lain untuk drama musikal Malin Kundang yang sukses dipentas di GKJ

Pada tahun 2003 dan Korla Urban Species, sebuah Drama oleh Cornelia Agatha, naskah Tommy Awuy, yang dipentas di Atrium Sampoerna Strategic Square pada tanggal 21 April 2012.

KARIR

Kegigihan Deviana membuahkan hasil. Ia menjadi Direktur untuk Jazz & Rockschule Freiburg Germany, di mana kurikulim yang diciptakannya diakui oleh pemerintah setempat. Bukan hanya di Jerman, Deviana juga menjadi profesor untuk ensembel, piano, vokal, improvisasi, choir dan latihan pendengaran di Music Academy Basel Jazz Departement, Swiss. Di sini ajarannya juga diakui secara resmi oleh Swiss Association of Music Educators.

Pekerjaan Deviana tidak berhenti. Walau tinggal dan bekerja di Eropa selama 26 tahun, ia masih sempat melewati 34 tahun terakhir di Thailand dan Amerika. Festival kenamaan pun pernah dicicipinya, sebut saja Grand Lancy Jazz Festival di Genewa, Altreu International Jazz Festival Swiss, Stuttgart Jazz Open Germany, Lugano Jazz Festival Swiss, serta penampilan memukaunya di National Theater Basel Swiss, di mana ia dianugerahi sebagai Artis Luar Biasa.

5 kali sudah Deviana menjadi pemenang pertama kompetisi SoulJazz Band di German pada 1978. 2 kali juara pertama kontes Swiss National and National Swiss TV of Eurovision Sing di Swiss pada 1982 dan 1983 yang membuatnya ditawari album rekaman produksi BMG Ariola Swiss dan Polygram Germany. Sayang Deviana menolaknya. Ia lebih memilih mengejar karirnya secara independen untuk berkonsentrasi di pendidikan musik. Pada tahun 1997, ia menerima penghargaan sebagai Pianis Jazz Terbaik di Zuerich-Oerlikon Swiss.

Setelah melanglang buana di luar negeri, Deviana memutuskan kembali ke Jakarta di awal tahun 2000. Ia bekerja sama dengan Nick Mamahit - pianis legendaris Indonesia, membangun Yayasan Daya Bina Budaya dan Institut Musik Daya Indonesia, sebuah akademi musik independen dengan standarisasi kurikulum internasional di Indonesia.

Atas jasa-jasanya, Deviana meraih penghargaan Citra Kartini dari Menteri Peranan Wanita pada tahun 2005. Di 2007, ia menjadi anggota Departemen Pendidikan Konsortium Musik RI. Tugas lembaga ini adalah memberi standart National Arts Curriculum dan National Association of Arts Pedagogue & Practitioners untuk penyetaraan kualitas Pendidikan Seni di Indonesia.

Sejak membangun Institut Musik Daya Indonesia pada 2001, Deviana bersama para koleganya sukses melahirkan 8 mahasiswa dengan gelar Bachelor dan Master di 2006, 2007, dan 2009. Beberapa di antara muridnya sukses. Mereka adalah komposer/arranger/konduktor dalam film-film ternama seperti LASKAR PELANGI, PHOTOGRAPH, dan GARUDA DI DADAKU.

Pada 5 Maret 2010 nanti, Deviana menghibur penggemar dan pecinta jazz lewat Java Jazz Festival di Jakarta International Expo (JIExpo), kawasan PRJ Kemayoran.

Saturday, 1 October 2016

Biografi Prof. Dr.Bachtiar Aly, MA

Bachtiar Aly (lahir di Banda Aceh, 21 Desember 1949; umur 66 tahun) adalah seorang pakar komunikasi politik Indonesia. Namanya mulai dikenal setelah dia menjabat menjadi duta besar Indonesia untuk Mesir tahun 2002-2005 dan penasihat ahli Kapolri RI saat ini. Dalam masa jabatannya, Dia telah mencatat banyak prestasi, di antaranya berhasil membangun Rumah Indonesia dan memberikan pembinaan bagi 4.488 orang masyarakat Indonesia di Mesir dengan baik.
Kisah sukses Bachtiar Aly dimulai ketika dia menempuh pendidikan publistik di Universitas Padjajaran, Bandung, dan kemudian dilanjutkan di Belanda dan Jerman.[1] Tahun 1980, Dia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 nya di Jerman dan meraih gelar Magister Artium (M.A).[1] Setelah meraih gelar tersebut, Dia meneruskan pendidikan (studi)nya ke jenjang S3, dan berhasil meraih gelar Doktor der Philosophie (Dr. Phil) dari Jerman pada tahun 1983.[1] Seusai menamatkan pendidikan doktornya, Bachtiar Aly aktif menulis beberapa buku.[1] Tahun 1988, Bachtiar menikah dengan R.Indrijati Inawangsih dan dikaruniai dua orang anak.

Riwayat Pendidikan :

S1, Publistik, Universitas Padjajaran, Bandung (1971)
S1-S3, Ilmu Komunikasi, Politik dan Sosiologi, Westfaelische Wilhelms – Universitaet Muenster, JERMAN (1984).

Perjalanan Politik :

Bachtiar Aly memulai karirnya di politik sebagai salah satu anggota tim ahli FKP DPR RI di Jakarta pada tahun 1998. Ia juga menjadi salah satu tim ahli MPR RI di Jakarta di tahun yang sama. Kemudian pada tahun 2000 sampai dengan 2005, Bachtiar Aly menjadi tim penasehat Presiden untuk urusan berkaitan dengan Aceh di Jakarta. Ia juga terlibat dalam Kementrian Polkam sebagai penasehat dari 2000 sampai 2002.
Bachtiar Aly mendapatkan kedudukan sebagai Duta Besar Mesir untuk periode 2002-2005. Lalu ia kembali ke Indonesia dan menjadi tim ahli DPR RI dari tahun 2005 sampai 2007.
Sebelum terlibat dengan ormas Nasional Demokrat dan Partai Nasdem, Bachtiar Aly telah lama terlibat dalam organisasi-organisasi lainnya seperti menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat dan Wakil Ketua Dewan Kehormatan di Perhimpinan Alumni Jerman, Ketua di Komite Profesor untuk Perpustakaan UI, dan ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Guru Besar FISIP UI. Di samping itu, beliau juga sampai sekarang masih menjadi pengurus forum duta besar RI, Jakarta.
Dari tahun 2010, Bachtiar Aly menjadi bagian dari Dewan Pertimbangan untuk Ormas Nasional Demokrat. Sejak tahun 2013, ia memegang posisi sebagai Ketua Dewan Pakar DPP Partai Nasdem di Jakarta.
Pada 17 Mei 2014, Bachtiar Aly menanggapi tentang kasus yang menimpa Walikota Medan Nonaktif, Rahudman Harahap. Rahudman divonis 5 tahun penjara oleh Mahkamah Agung, dan Bachtiar Aly berkata bahwa elit politik harus dapat menahan diri dan menghindari politik balas dendam.



Karya :
Beberapa karya dia yang telah berhasil dipublikasikan, di antaranya adalah :
Tahun 1984: Geschichte und Gegenwart der Kommunikationssysteme in Indonesien, Peter Lang, Frankfurt am Mainz, Bern, New York.
Tahun 1989: Retorika, UT, Jakarta.
Tahun 1997: Pro PR. Kharisma Aksara, Jakarta.
Tahun 2001: Balada aceh, Insolusi, Jakarta.
Tahun 2004: Melampaui Seperempat Abad Merajut Opini, Kharisma Aksara, Jakarta.

Di luar itu, dia juga menulis buku-buku bidang komunikasi lainnya, seperti Sejarah Media Massa, Refleksi Media Politik, Pergulatan Pers Profesional, Pers Mandiri Beretika, Menuju Radio Independen, Wajah Televisi Kita, Analisis Informasi Internasional, Merajut Mata Rantai Diplomasi-Komunikasi, Kapita Selekta Komunikasi, Komunikasi Bisnis, Dinamika Komunikasi Politik, dan Opini Wacana Demokrasi.

Source : https://id.wikipedia.org

Friday, 30 September 2016

Biografi Prof. Ali Hasjmy

Prof. Ali Hasyimi
Prof. Ali Hasyimi (nama lahir: Muhammad Ali Hasyim) alias Al Hariry, Asmara Hakiki dan Aria Hadiningsun lahir di Idi Tunong, Aceh, 28 Maret 1914 – meninggal 18 Januari 1998 pada umur 83 tahun adalah sastrawan, ulama, dan tokoh daerah Aceh.
Ali Hasyimi adalah anak kedua dari 7 orang bersaudara. Ayahnya, Teungku Hasyim, pensiunan pegawai negeri dan mempunyai satu orang istri bernama Zuriah Aziz yang dikaruniai 7 orang anak.

Karier
      Beliau Pernah menjabat Gubernur Aceh periode 1957-1964, Gubernur diperbantukan Menteri Dalam Negeri Jakarta periode 1964-1968. Ketua Majelis Ulama Aceh. Rektor Institut Agama Islam Negeri Jamiah Ar Raniry, Darussalam, Banda Aceh.Tahanan dalam penjara Jalan Listrik, Medan, karena dituduh terlibat dalam pemberontakan Daud Beuereueh di Aceh, September 1953 - Mei 1954. Kepala Jawatan Sosial Daerah Aceh, Kutaraja (1946-1947), Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara (1949), Inspektur Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara (1949), Inspektur Kepala Jawatan Sosial Provinsi Aceh (1950), Kepala Bagian Umum pada Jawatan Bimbingan dan Perbaikan Sosial Kementerian Sosial di Jakarta (1957), Tahun 1975 diangkat sebagai guru besar (Prof) dalam ilmu dakwah oleh IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Karya Tulis
1.      Kisah seorang pengembara, sajak, diterbitkan oleh Pustaka Islam, Medan 1936
2.      Sayap terkulai. Buku ini merupakan kisah roman perjuangan yang selesai ditulis dalam tahun 1938, namun tidak sempat diterbitkan, kerana naskahnya hilang di Balai Pustaka, ketika pendudukan Jepang.
3.      Dewan sajak, Centrale Courant, Medan 1938.
4.      Bermandi cahaya bulan, roman pergerakan, diterbitkan oleh Indiche Drukrij, Medan 1939 (Edisi Jakarta diterbitkan oleh Bulan Bintang, 1978)
5.      Melalui jalan raya dunia, roman masyarakat, diterbitkan oleh Indiche Drukrij, Medan 1939 (Edisi Jakarta diterbitkan oleh Bulan Bintang, 1978).
6.      Suara azan dan lonceng gereja, roman antara agama, diterbitkan oleh Syarikat Tapanuli, 1940. Edisi Jakarta diterbitkan oleh Bulan Bintang, 1978 dan edisi Singapura diterbitkan oleh Pustaka Nasional, 1982.
7.      Cinta mendaki, roman filsafat/perjuangan, tidak terbit kerana naskahnya hilang pada Balai Pustaka Jakarta ketika pencerobohan Jepang.
8.      Dewi Fajar, diterbitkan oleh Aceh Simbun, Banda Aceh 1943. Buku ini merupakan roman politik.
9.      Tanah Merah, Bulan Bintang, Jakarta 1950. Buku ini merupakan salah satu buku roman perjuangan.
10.  Meurah Johan, Bulan Bintang, Jakarta 1950. Buku ini mengisahkan mengenai roman sejarah Islam di Aceh.
11.  Pahlawan-pahlawan Islam yang gugur, Bulan Bintang, 1956, 1971, 1974 dan1981. Edisi Singapura diterbitkan oleh Pustaka Nasional, 1971 dan 1982. Buku ini merupakan saduran dari karya berbahasa Arab.
12.  Kerajaan Saudi Arabia, Bulan Bintang, Jakarta 1957. Buku ini merupakan riwayat perjalanan A. Hasjmy ke Saudi Arabia.
13.  Rindu bahagia, Pustaka Putro Canden, Banda Aceh 1963. Buku ini merupakan kumpulan sajak dan cerpen (cerita pendek).
14.  Jalan kembali, Pustaka Putro Canden, Banda Aceh 1963. Buku ini merupakan kumpulan sajak yang bernafaskan Islam.
15.  Semangat kemerdekaan dalam sajak Indonesia baru, Pustaka Putro Canden, Banda Aceh 1963.
16.  Sejarah kebudayaan dan tamadun Islam, Penerbit IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh 1969.
17.  Yahudi bangsa terkutuk, Pustaka Faraby, Banda Aceh 1970.
18.  Sejarah hukum Islam, Majlis Ulama Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh 1970.
19.  Hikayat perang sabi menjiwai perang Aceh lawan Belanda, Pustaka Faraby.
20.  Islam dan ilmu pengetahuan modern, Pustaka Nasional, Singapura 1972. Buku ini merupakan terjemahan dari Bahasa Arab.
21.  Rubaci Hamzah Fansury karya sastera sufi Abad XVII, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur 1974.
22.  Sejarah kebudayaan Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1975, 1978 dan 1982.
23.  Iskandar Muda Meukuta Alam, Bulan Bintang, Jakarta 1977. Buku ini membahas sejarah hidup Sultan Iskandar Muda.
24.  Sumbangan kesusastraan Aceh dalam pembinaan kesusastraan Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta 1978.
25.  Langit dan para penghuninya, Bulan Bintang, Jakarta 1978. Buku ini terjemahan dari Bahasa Arab.
26.  Apa Sebab al-Qur’ān tidak bertentangan dengan akal, Bulan Bintang, Jakarta, 1978. Buku ini merupakan terjemahan dari Bahasa Arab.
27.  Nabi Muhammad sebagai panglima perang, Mutiara, Jakarta 1978.
28.  Mengapa ibdah puasa diwajibkan, Bulan Bintang, Jakarta 1979. Buku ini merupakan terjemahan dari Bahasa Arab.
29.  Cahaya kebenaran, Bulan Bintang, Jakarta 1979. Buku ini merupakan terjemahan al-Qur’ān Juz Amma.
30.  Surat-surat dari tanah suci, Bulan Bintang, Jakarta 1979.
31.  Sejarah masuk dan kerkembangnya Islam di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung 1981.
32.  Mengenang kembali perjuangan misi Haji RI ke II, Al-Ma’arif, Bandung 1983
33.  Benarkah Dakwah Islamiyah bertugas membangun manusia, Al-Ma’arif, Bandung 1983. Buku ini merupakan perubahan nama dari buku Dakwah Islamiyah dan kaitannya dengan pembangunan manusia, Mutiara, Jakarta 1978.
34.  Kesusasteraan Indonesia dari zaman ke zaman, Beuna, Jakarta 1983.
35.  Sejarah kesusasteraan Islam/Arab, Beuna, Jakarta 1983.
36.  Hikayat Pocut Muhammad dalam analisa, Beuna, Jakarta 1983.
37.  Publisistik dalam Islam, Beuna, Jakarta 1983.
38.  Syiah dan ahlussunnah saling rebut pengaruh di Nusantara, Bina Ilmu, Surabaya 1984.
39.  Di Mana Letaknya Negara Islam (Singapura, 1976)
40.  Dustur Dakwah Menurut Al Quran (1973)
41.  Nona Press Room (novel, 1963)
42.  Cinta Sepanjang Jalan (kumpulan cerpen, 1980).
43.  Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun (Jakarta, Bulan Bintang 1978).

Source : 
https://id.wikipedia.org/
https://asiaaudiovisualrb09susilo.wordpress.com
                                                              

Biografi ABU BAKAR ATJEH


Prof. Dr. KH. Aboebakar Atjeh (atau Abubakar Aceh atau Abu Bakar Aceh atau Hadji Aboebakar) adalah cendekiawan terkenal dari Aceh sekaligus penulis buku-buku keagamaan, filsafat dan kebudayaan. Lahir dengan nama Aboebakar pada 18 April 1909 di Peureumeu, Kabupaten Aceh Barat, dari pasangan ulama. Ayahnya adalah Teungku Haji Syekh Abdurahman, imam Masjid Raya Kutaradja (sekarang lebih sering disebut sebagai Masjid Raya Baiturrahman). Ibunya bernama Teungku Hajjah Naim. Aboebakar Atjeh meninggal pada 18 Desember 1979 di Jakarta, dan dimakamkan di TPU Karet Bivak Jakarta. Tambahan “Atjeh” di belakang namanya merupakan pemberian Presiden Soekarno yang kagum akan keluasan ilmu putra Aceh ini. “Ensiklopedia Berjalan” adalah sebutan teman-temannya tentang hakikat ilmu pengetahuannya.
Nama Aboebakar Atjeh masuk dalam buku Seratus Tokoh Islam yang Paling Berpengaruh di Indonesia yang ditulis oleh Shalahuddin Hamid dan Iskandar Ahza.

Prof. Dr. KH. Aboebakar Atjeh Seorang ulama Indonesia dan pengarang yang menulis banyak buku tentang agama Islam, filsafat, *tasawuf, sejarah, dan kebudayaan Aceh. Kata Atjeh adalah tambahan nama yang diberikan oleh presiden RI pertama, Soekarno yang mengagumi keluasan ilmunya. Ayahnya, Syekh Abdurrahman, adalah Imam Masjid Raya Kutaraja (sekarang Banda Aceh) dan keturunan Kadi Sulatan di Aceh Barat. Ia belajar mengaji Al-Qur’an pada ayahnya dan mempelajari ajaran Islam dari beberapa guru agama, teungku di kampung kelahiranya.

Pendidikan formalnya dimulai dari sekolah dasar Volkssschool di Meulaboh, kemudian dilanjutkan di Kweekschool Islamiyah (Sekolah Guru Islam) di Sumatra Barat. Setelah itu ia pindah ke Jakarta dan di sini ia mempelajari beberapa bahasa asing melalui kursus-kursus. Ia menguasai bahasa Arab, Belanda, Inggris dan memahami bahasa Jepang, Perancis dan Jerman. Ia juga mengerti beberapa bahasa daerah seperti bahasa Aceh, Minagkabau, Jawa, Sunda dan Gayo. Pernah menuntut ilmu di Mekah, namun tidak lama.
Pada masa sebelum kemerdekaan, zaman pendudukan Jepang, dan zaman setelah proklamasi, ia banyak melakukan kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Kegiatan itu antara lain, mendirikan Muhammadiyyah di Kutaraja (1924), bekerja sebagai pegawai rendahan, kemudian menjadi pegawai senior. Pada zaman Belanda sebagai pustakawan dan editor pada Kantor Urusan Dalam Negeri (1930 – 1941). Di masa pendudukan Jepang, ia menjadi pemimpin asrama dan pegawai perpustakaan pada Shomubu Nito Syoki (1944), di samping menjadi guru pada Latihan Kursus Kiai. Setelah Proklamasi Kemerdekaan ia menjadi pegawai pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (1945). Kemudian ia menjabat Kepala Perpustakaan Islam Kementerian Agama di Yogyakarta (1946), anggota pemimpin Partai Masyumi di Yogyakarta (1946), dan menjadi Pegawai Tinggi pada Departemen (Kementerian) Agama Republik Indonesia (1947 – 1955). Pada tahun 1950, ia menjadi pimpinan editor majalah mimbar agama, majalah resmi Departemen Agama. Pada tahun 1948 bersama menteri agama waktu itu KH *Masjkur, ia memelopori gagasan penulisan Al-Qur’an Pusaka. Al-Qur’an tersebut berukauran 65 x 120 cm dan kini disimpan di Masjid Baitur Rahim, Istana Negara, Jakarta.
Abu Bakar Atjeh juga tercatat sebagai anggota pengurus penulisan sejarah untuk Monumen Nasional; menjadi salah seorang anggota paniatia pembangunan Masjid *Istiqlal Jakarta; seorang pencetus berdirinya Masjid Agung al-Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan; turut mendirikan Perpustakaan Kutub Khannah Iskanar Muda di Banda Aceh (1949 – 1950); dan mendirikan serta menjadi pengurus Perpustakaan Islam di Jakarta yang kemudian dipindahkan di Yogyakarta.
Sebagai ulama dan cendekiawan, ia katif memberikan pengajian agama di masjid-masjid dan menjadi penceramah agama Islam pada Pusroh (Pusat Rohani) Angkatan Bersenjata RI Jakarta, dan menjadi dosen pada beberapa perguruan tinggi di Jakarta seperti IAIN, Universitas Ibnu Khladun, dan Universitas Islam Jakarta. Pada tanggal 30 Januari 1967 ia menerima gelar doktor honoris causa dalam bidang Ilmu Agama Islam dari Universitas Islam Jakarta.
Sebagai pejabat tinggi Departeman Agama RI ia berkesempatan mengunjungi beberapa negara, seperti Filipina, Pakistan, Jepang (dalam rangka urusan mencetak Al-Qur’an), Arab Saudi (dalam rangka anggota delegasi Indonesia ke konggres Islam), dan Mesir (sebagai anggota rombongan menteri luar negeri). Pada hari tua sampai wafatnya, ia menjadi ikhwan Tarekat Kadiriah-Naqsyabandiyah yang berpusat di Suralaya.

Karya-karya tulisnya yang diterbitkan antara lain:
1.      Sejarah Al-Qur’an, cet II, 1951, dan cet VI, 1989.
2.      Sejarah Ka’bah dan Manasik Haji, cet.III, 1963.
3.      Sejarah Hidup K.H.A. Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar, 1957
4.      Sejarah Masjid dan amal Ibadah di dalamnya, 1955; Mutiara Akhlaq, 1959
5.      Ahlus Sunnah wal-Jama’ah: Keyakinan dan I’tiqad, 1969
6.      Sejarah Filsafat Islam, cet II, 1982, cet III, V, 1989
7.      Pengantar Ilmu Tarekat, cet. I, 1963 dan cet. V 1988
8.      Perbandingan Mazhab Syi’ah, Rasionlisme dalam Islam, cet. I, 1965, dan cet. II, 1980
9.      Gerakan Salafiyah di Indonesia, 1970
10.  Perbandingan Mazhab Salaf, Islam dalam masa Murni, 1970, cet. II, 1986
11.  Wasiat Ibnu Arabi Kupasan Hakikat dan Ma’rifat dalam Tasawuf Islam, 1976
12.  Ilmu Fiqih Islam dalam Lima Mazhab, 1977
13.  Pendidikan Sufi, 1985
14.  Potret Dakwah Muhammad SAW dan para Sahabatnya, 1986
15.  Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, 1982
16.  Toleransi Nabi Muhammad dan para Sahabatnya, cet. II, 1984
17.  Lee Sabooh Nang, buku bacaan anak-anak dalam bahasa Aceh
18.  Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf.


Source : 
https://id.wikipedia.org
http://patahkekeringan.blogspot.co.id/